Borokovic

Sekedar catatan yang sedang diingat itupun kalo lagi gak males..

01 January 2008

ILMU PENAKSIRAN (Lebar Sungai)

Dalam suatu perjalanan terkadang kita dihadapkan pada suatu keadaan yang mengharuskan untuk menaksir terlebih dahulu kondisi medan yang akan dihadapi artinya agar saat melewati medan tersebut kita tidak terjebak dalam kesulitan, misalnya sebelum menyeberang sungai, kita harus menaksir lebar, kedalaman serta kecepatan arus sungai yang akan kita lalui. Sebelum memanjat tebing kita harus menaksir tingginya agar dapat memperkirakan panjang tali, serta peralatan lain yang kita perlukan. Hasil penaksiran yang kita dapatkan memang belum tentu sepenuhnya benar, ketelitian hasil penaksiran akan tergantung dari kecermatan dan pengalaman.

Sebelum kita meneruskan lebih jauh maka ada baiknya bila kita mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan penaksiran. Penaksiran adalah proses mengetahui sejumlah hal yang dialami melalui panca indera, anggota tubuh dan pengalaman serta terkadang dengan bantuan alat yang minimal. Sementara itu panca indera adalah lima bagian tubuh kita yang digunakan untuk merasakan sesuatu yang terdiri dari indera perasa yang berguna untuk membedakan manis, asin, asam, dan kecut. Indera penciuman adalah indera yang mendeteksi sejumlah bau seperti bau harum, tengik, anyir, amis dan busuk. Indera pendengaran adalah indera yang mengartikan dengungan suara yang terjangkau oleh telinga. Indera peraba adalah indera yang mengartikan sentuhan atau rabaan kulit terhadap alam sekitar. Dan yang terakhir adalah indera penglihatan yang mengartikan cahaya dari sumber cahaya tersebut.

Untuk mempermudah penaksiran sebaiknya kita mengetahui sebanyak mungkin segala sesuatu yang dapat dijadikan standar pengukuran seperti bagian-bagian tubuh kita sendiri seperti panjang rentang tangan, panjang jengkal jari, lebar langkah kaki, panjang telapak tangan, tinggi badan, berat badan atau hal-hal lain seperti itu. Dan dapat juga menggunakan benda-benda yang dibawa dalam perjalanan seperti ukuran syal, sabuk (ikat pinggang). Dan yang terakhir adalah hal-hal lain yang yang dapat dijadikan standar seperti jarak tiang listrik, jarak tanam pohon karet, dll. Namun, akan lebih baik lagi jika yang dijadikan standar adalah bagian tubuh karena selalu terbawa dalam perjalanan.

Pengalaman juga merupakan satu faktor yang penting karena dengan semakin seringnya kita menggunakan penaksiran saat kita di medan maka kita akan memiliki semacam “sense” contohnya, bila sudah terbiasa menaksir tinggi tebing, maka kita juga tidak perlu lagi menaksirnya dengan tinggi badan karena hal itu pastinya sudah terbayang didalam benak kita bahwa ketinggian 100 meter adalah setinggi itu.

Kiat penaksiran adalah mau berpikir dua kali dari sudut pandang yang berbeda agar hasil penaksiran lebih mendekati akurat. Berikut ini ada beberapa contoh teknik penaksiran :
  1. Penaksiran lebar sungai tenang/danau.
  2. Cara penaksiran lebar sungai yang berarus tenang ini dapat dilakukan dengan cara menjatuhkan benda berat ke air kemudian perhatikan riak air yang berjalan menuju kearah depan kita dan perhatikan pula riak yang sama yang yang mengarah kesamping kita. Ukuran jarak dari titik kita menjatuhkan batu hingga ketitik yang disamping kita tadi adalah lebar sungai yang akan kita perkirakan.
  3. Penaksiran kecepatan arus sungai.
  4. Untuk menaksir kecepatan arus sungai kita dapat melakukan dengan meletakkan suatu benda yang dapat terapung. Benda terapung yang kita letakkan akan terbawa arus sungai, setelah berjarak sekitar 15 meter anggap titik itu adalah titik awal. Setelah itu mulailah berjalan mengikuti benda tadi sambil menghitung waktu dari titik yang kita anggap sebagai titik awal hingga kita sampai dititik yang kita rasa sudah cukup sambil menghitung waktu yang kita butuhkan untuk mengikuti benda tadi dari titik awal hingga titik akhir. Setelah itu, kecepatan arus sungai tersebut dapat diperoleh dengan membagi jarak titik awal hingga akhir dengan waktu yang kita perlukan untuk berjalan dari titik awal hingga titik akhir.
  5. Penaksiran cuaca.
Seorang pendaki gunung diharapkan agar bisa untuk membaca cuaca melalui tanda–tanda cuaca terutama disaat sedang melakukan perjalanan. Tanda yang dapat kita perhatikan diantaranya adalah bila langit terlihat merah pada malam hari maka itu menandakan bahwa cuaca baik tetapi bila langit terlihat merah disaat pagi hari maka itu berarti akan turun hujan. Bila terlihat berwarna kuning pucat pada saat matahari terbenam berarti akan turun hujan. Embun dan kabut yang turun disaat dini hari cukup untuk menandakan bahwa cuaca bagus. Disamping itu kita juga dapat melihatnya dari binatang seperti laba–laba yang membuat sarang disiang hari menandakan cuaca cerah atau kodok/katak yang ribut memberi tanda bahwa akan turun hujan. Jika kambing mengembik itu memberi arti cuaca buruk namun jika kambing mengaum itu berarti itu aneh tapi nyata.

Kita juga dapat menaksirkan arah mata angin dengan melihat beberapa tanda seperti kuburan Islam yang menghadap keutara, masjid yang menghadap kiblat (Indonesia kearah barat), bagian pohon yang berlumut tebal menunjukkan arah timur.

Semoga beberapa petunjuk penaksiran ini dapat bermanfaat bagi kita dan selamat berpetualang. Abud 341/GPA/STTNas

No comments:

Post a Comment