Borokovic

Sekedar catatan yang sedang diingat itupun kalo lagi gak males..

13 December 2007

FOTO DOKUMENTASI

Bagi kalangan penggiat kegiatan alam terbuka, setiap kejadian atau situasi yang dijumpai dilapangan adalah sebuah kenangan yang mampu membangkitkan rasa romantisme tersendiri, terlebih jika apa yang dilakukan saat itu tidak mungkin terulang diwaktu yang akan datang. Cerita dari mulut ke mulut mungkin cukup menarik untuk disimak, apalagi jika dibumbui sedikit agak mengada-ada alias mendramatisir keadaan, tapi bagaimana jadinya bila kita hanya sedikit berbicara dan membiarkan media visual yang bercerita?. Akankah audiensi (pendengar) tetap akan tertarik dengan narasi yang panjang lebar dari pada foto-foto yang lebih objektif dan jujur ?.

Suatu hari ada beberapa orang teman yang dengan bersemangat menceritakan kisah-kisah petualangannya, sementara beberapa orang lain yang mendengarkan tampak berkerut dahinya; mencoba membayangkan situasi yang dialami oleh pencerita. Tampaknya si pencerita mengerti bahwa orang-orang disekelilingnya masih belum mengerti dan dia mencoba mengarahkan semua bahasa tubuhnya agar dapat dimengerti, sehingga terlihat seperti seorang aktor yang ketinggalan skenario, tapi apa yang terjadi?, Pendengar hanya manggut-manggut bingung, dengan rasa putus asa, akhirnya pencerita tersebut menyerah dan bergumam "andaikata saya bawa kamera waktu itu".

Nah, dari sedikit pengalaman tersebut, ternyata kata-kata saja tidak cukup untuk dapat memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi yang ingin disampaikan, kejadiannya akan lain jika pencerita tersebut menyodorkan serangkaian foto kegiatannya, yang muncul justru pendengar (audience) tersebut akan aktif bertanya sehingga pembicaraan akan lebih hidup dan menarik, dan tak kurang dari mereka akan berdecak kagum bila gambar-gambar yang disajikan terasa fantastis bagi mereka. Permasalahannya, bagaimana kita membuat gambar/foto dokumentasi yang mampu bercerita dengan baik ?.

Untuk membuat foto/gambar dokumentasi tidaklah harus seorang fotografer profesional, tidak juga harus dengan menggunakan peralatan fotografi yang mahal, seperti kamera SLR, kamera digital atau kamera mahal lainnya. Apabila kita cukup teliti dan mengerti dengan kamera pocket/saku kita dapat menyajikan gambar-gambar yang cukup baik, meski tidak bisa dipungkiri penggunaan peralatan standar diimbangi dengan pengetahuan yang cukup akan membuat hasil suatu foto akan lebih bagus.

Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang dokumentator dalam merekam moment-moment yang ada didepannya. Beberapa diantaranya adalah seorang dokumentator harus menguasai peralatan dokumentasinya, termasuk didalamnya adalah pemahaman karakteristik dan fungsi-fungsinya. Dengan kamera saku misalnya, dia harus mengetahui berapa jarak maksimum-minimum obyek yang harus diambil, kekuatan blitznya, spesifikasi ASA, dan lain sebagainya.

Seorang dokumentator juga harus mengetahui moment-moment apa yang harus dia ambil, sebaiknya setiap moment yang direkam mampu mewakili keseluruhan kegiatan, bukannya gambar orang-orang yang sekedar jual tampang rame-rame (asli... yang ini blazzz nggak fotogenik).

Pencahayaan sudut pengambilan, terkadang ada beberapa moment yang terasa hambar dengan sudut pengambilan yang kurang tepat. Pembingkaian gambar, tidak sedikit foto-foto yang dijumpai di album terdapat potongan tangan, kaki, telinga atau hidung orang yang kita tidak pernah tahu siapa pemiliknya, dan hal tersebut sering membuat jengkel para penikmat foto dokumentasi kita.

Namun juga ada bagusnya, bagusnya jika dokumentator belajar tentang teknik-teknik fotografi, agar hasil dokumentasinya lebih yahud. Yang terakhir, harus diingat, biasakan berpikir bahwa hasil rekaman kita tidak hanya dinikmati oleh teman-teman di base camp saja tetapi juga untuk laporan kita pada pihak yang membutuhkan seperti kampus misalnya! Syukur-syukur bisa dikonsumsi oleh masyarakat umum (dipublikasikan). Yang pasti agar kita tidak asal jepret ini dan itu yang tidak berguna.

Jangan pernah lupa untuk membuat konsep/skenario pendokumentasian agar kita tidak kelabakan ketika kehabisan film, dan yang pasti agar kita tahu kapan frame terakhir akan kita jepretkan.Selamat berkarya! Uthenk

No comments:

Post a Comment